Menebar Pesona Keberagaman: Mamih Veronika, Duta Kampung Toleransi, Pukau Asia Afrika Festival 2026 dengan Barongsai

Kamis, 16 Juli 2026

Jul 16, 2026 - 05:10
Jul 16, 2026 - 08:02
 0  40
Menebar Pesona Keberagaman: Mamih Veronika, Duta Kampung Toleransi, Pukau Asia Afrika Festival 2026 dengan Barongsai

​BANDUNG — Jalan Asia Afrika kembali menjadi saksi bisu kemegahan sejarah dunia saat Pemerintah Kota Bandung resmi membuka Asia Africa Festival (AAF) 2026 di depan Gedung Merdeka pada Sabtu (11/7/2026). Mengusung tema "Unity in Diversity, Rising in Harmony", festival tahun ini menyuguhkan pesan kuat tentang pentingnya kolaborasi global, keberlanjutan, dan inklusivitas. Di tengah gemuruh perayaan tersebut, kehadiran Duta Kampung Toleransi Kota Bandung, Veronika Yeane Yosef—atau yang akrab disapa "Mamih"—menjadi salah satu sorotan utama yang memikat perhatian ribuan pasang mata.

​Mamih Veronika hadir tidak sendirian; ia membawa misi memperlihatkan wajah Bandung yang ramah dan toleran kepada dunia. Didampingi oleh dua orang wanita anggun—satu mengenakan busana kebaya khas Nusantara yang sarat akan nilai tradisi, dan seorang lagi tampil memukau dengan busana pesta yang elegan—kehadiran rombongan ini merepresentasikan perpaduan harmonis antara modernitas dan keluhuran budaya lokal. Langkah anggun mereka di sepanjang jalur karnaval menjadi simbol nyata dari keindahan dalam perbedaan.

​Kemeriahan semakin memuncak saat Mamih Veronika membawa rombongan Barongsai untuk unjuk gigi di tengah festival. Kelompok seni tradisional Tionghoa ini tampil sangat atraktif, menyajikan tarian naga yang lincah dengan iringan tabuhan alat musik simbal dan gong yang khas serta menghentak. Atraksi memukau ini sengaja disuguhkan tepat di hadapan barisan pejabat tinggi negara, delegasi luar negeri yang hadir, serta ribuan masyarakat yang memadati kawasan bersejarah tersebut.

​Rombongan Barongsai yang dibawa oleh sang Duta Kampung Toleransi tampak begitu antusias dan penuh semangat dalam memberikan penampilan terbaik mereka. Setiap lompatan presisi dan gerakan dinamis yang diperagakan berhasil memancing riuh tepuk tangan dari para penonton. Melalui kesenian Barongsai ini, Mamih Veronika ingin menyampaikan pesan tersurat bahwa Kota Bandung adalah rumah yang aman, hangat, dan sangat menghargai pluralisme budaya.

​Di sela-sela acara, Mamih mengekspresikan apresiasi yang setinggi-tingginya terhadap penyelenggaraan Asia Afrika Festival 2026. Menurutnya, festival internasional seperti ini bukan sekadar parade budaya tahunan, melainkan sebuah ruang perjumpaan yang sangat efektif untuk mempererat tali persaudaraan antarwarga dunia. Melalui event ini, pesan-pesan perdamaian dan toleransi yang terus digaungkan oleh Kampung Toleransi Kota Bandung dapat tersampaikan secara lebih luas dan menyentuh berbagai lapisan masyarakat.

​Sebelum kemeriahan karnaval dimulai, Sekretaris Daerah Kota Bandung, Iskandar Zulkarnain, menegaskan dalam sambutannya bahwa Bandung memikul warisan sejarah yang sangat besar sebagai tempat lahirnya Dasasila Bandung. Ia menyebut nilai saling menghormati, kesetaraan, dialog damai, dan kerja sama internasional masih sangat relevan dalam menghadapi tantangan zaman modern. Pemkot Bandung pun berkomitmen penuh menjaga warisan ini demi mewujudkan visi Bandung Utama yang unggul, inklusif, amanah, maju, dan agamis.

​Nuansa festival tahun ini juga diperkaya oleh pidato Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia, Muhammad Jumhur Hidayat. Jumhur menilai bahwa di tengah ancaman perubahan iklim global, sudah saatnya bagi seluruh negara untuk mentransformasikan Bandung Spirit menjadi Green Bandung Spirit. Ia mendorong adanya inovasi, solidaritas, dan aksi nyata lintas negara dalam menjaga kelestarian ekosistem bumi demi pembangunan berkelanjutan yang adil dan inklusif bagi generasi mendatang.

​Keberagaman dan kesetaraan juga disuarakan dengan lantang oleh Presiden Pergerakan Disabilitas dan Lanjut Usia Indonesia, Farhan Helmy. Dalam pandangannya, tantangan global seperti kemiskinan perkotaan, kesehatan, hingga aksesibilitas teknologi hanya bisa dipecahkan melalui keterlibatan aktif semua pihak tanpa terkecuali. Ia mengingatkan para hadirin dengan sebuah kutipan mendalam bahwa keberagaman bukanlah kelemahan kita, melainkan eksklusi atau pembatasan sosiallah yang menjadi kelemahan sesungguhnya.

​Setelah prosesi pembukaan resmi selesai, kemeriahan langsung berlanjut ke agenda utama, yaitu Asia Africa Carnival. Parade kolosal ini menampilkan berbagai delegasi dari negara-negara Asia dan Afrika, perwakilan kota kembar (sister cities), mahasiswa internasional yang menempuh studi di Bandung, serta berbagai komunitas seni budaya lokal yang kreatif. Rute karnaval membentang indah mulai dari Jalan Asia Afrika hingga berakhir di kawasan Jalan Cikapundung Barat.

​Karnaval menyusuri sepanjang jalan protokol tersebut seketika berubah menjadi ruang publik yang sangat hidup dan penuh warna. Masyarakat dan wisatawan yang hadir tampak larut dalam sukacita, menikmati keberagaman budaya dunia sekaligus merayakan persahabatan antarbangsa. Kehadiran tokoh-tokoh inspiratif seperti Mamih Veronika bersama rombongan Kampung Toleransinya membuktikan bahwa toleransi di Kota Bandung bukan sekadar slogan, melainkan napas kehidupan yang nyata dan terus dirawat bersama.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow

Surga Nama : ADI PRAKOSO ( WA : 0857 5912 3153 )