PERDOSRI Jabar Dukung Peringatan World Cerebral Palsy Day 2025: Dorong Terapi Mandiri dan Semangat Orang Tua Anak CP
Minggu, 19 Oktober 2025
Bandung – Sejumlah dokter dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi Indonesia (PERDOSRI) Cabang Jawa Barat hadir memberikan dukungan dan latihan Yoga Adaptif khusus untuk Cerebral Palsy bekerja sama dengan ibu Tina Maladi dari KidsYoga Jakarta dalam peringatan World Cerebral Palsy Day 2025 atau Hari Cerebral Palsy Sedunia, yang digelar di Ballroom Hotel Horison, Bandung, pada Minggu, 19 Oktober 2025. Acara ini menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap hak dan akses setara bagi penyandang cerebral palsy (CP).
Salah satu dokter yang hadir, dr. Marietta Shanti Prananta, Sp.KFR, Ped(K) dari Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung, yang juga menjabat sebagai Seksi Pengabdian Masyarakat PERDOSRI Jabar, menyampaikan bahwa pihaknya sejak awal selalu mendukung kegiatan yang diinisiasi oleh Yayasan Anak Bunda Istimewa (YABI) bersama Komunitas Keluarga Cerebral Palsy ini. “Kami memberikan latihan-latihan atau exercise yang bisa dilakukan di rumah agar anak-anak CP tetap terjaga kondisi fisiknya,” ujarnya.
Lebih lanjut, dr. Marietta menjelaskan bahwa latihan sederhana di rumah sangat penting untuk mencegah kekakuan otot dan sendi pada anak CP. “Tujuan utamanya agar postur anak tetap baik, tidak kaku, ototnya tetap kuat, dan mampu beraktivitas sehari-hari tanpa penurunan fungsi. Bahkan, kami berharap kondisinya bisa makin baik,” tambahnya. Ia menegaskan bahwa perhatian berkelanjutan dan dukungan keluarga menjadi kunci dalam keberhasilan terapi anak-anak dengan CP.
Kepada para orang tua, dr. Marietta berpesan agar tidak mudah menyerah dan terus bersemangat mendampingi anaknya menjalani latihan atau terapi. “Kalaupun tidak sempat terapi di rumah sakit, banyak program yang bisa dilakukan di rumah. Yang penting jangan sampai terjadi kemunduran fungsi. Kami justru ingin melihat anak-anak ini tumbuh sehat, mandiri, dan bisa bermanfaat bagi masyarakat,” pesannya penuh haru.
Acara World Cerebral Palsy Day 2025 ini dihadiri oleh berbagai tokoh, di antaranya Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat dr. Vini, Ketua DPRD Kota Bandung H. Asep M., Anggota DPRD Jabar Ummi Oded, Komunitas Lendeng N D’gank, serta para tokoh masyarakat lainnya. Kehadiran mereka menjadi bentuk nyata dukungan lintas sektor terhadap perjuangan keluarga dan anak penyandang CP.
Ketua YABI, Rika Yulianti Windriani, S.Pd, dalam sambutannya menyampaikan bahwa acara ini bertujuan untuk menyemangati orang tua agar tidak merasa sendirian dalam perjalanan mendampingi anak CP. “Anak-anak kita adalah anak yang unik dan istimewa. Kami ingin para ayah dan bunda merasa termotivasi, karena setiap anak CP adalah alasan untuk memperjuangkan perubahan,” ujar Rika.
Rika juga menambahkan bahwa ekspresi diri sering kali menjadi tantangan bagi anak dengan CP derajat berat. “Ketika anak tidak bisa berbicara atau mengungkapkan perasaan, kami percaya bahwa kebahagiaan orang tua bisa dirasakan oleh anak. Karena ketika orang tua bahagia, anak pun akan ikut bahagia,” ucapnya lembut.
Perayaan tahun ini menjadi istimewa karena jumlah peserta meningkat signifikan dibanding tahun sebelumnya. “Kalau tahun lalu hanya 350 anak, sekarang mencapai 500 anak penyandang CP dan lebih dari 1.200 orang tua pendamping yang hadir,” jelas Rika. Kegiatan juga diisi dengan pemeriksaan kesehatan gratis, konsultasi medis, pemeriksaan kursi roda, pameran karya anak CP, serta berbagai penampilan seni yang menggugah semangat.
Menurut Rika, melalui kegiatan ini, YABI ingin menunjukkan bahwa anak-anak CP juga memiliki potensi luar biasa jika diberi kesempatan dan dukungan yang tepat. “Kami ingin menghapus rasa kesepian di hati para orang tua. Karena dengan kebersamaan dan dukungan, semangat mereka akan tumbuh, dan anak-anak pun bisa berkembang lebih baik,” katanya.
Acara puncak World Cerebral Palsy Day 2025 ini menjadi simbol sinergi antara tenaga medis, pemerintah, komunitas, dan keluarga dalam memperjuangkan hak anak-anak CP untuk hidup sehat, bahagia, dan bermartabat. Kehadiran PERDOSRI Jabar menjadi bukti nyata bahwa pendekatan rehabilitasi fisik dan dukungan emosional harus berjalan beriringan, demi masa depan yang lebih baik bagi anak-anak istimewa Indonesia.
What's Your Reaction?