Bandung Jewellery Fair 2026 Resmi Dibuka: Dorong Investasi Industri Kreatif dan Penguatan UMKM Perhiasan Nasional
Kamis, 11 Juni 2026
BANDUNG – Industri perhiasan tanah air kembali menunjukkan taringnya melalui gelaran Bandung Jewellery Fair (BJF) 2026. Pameran perhiasan bergengsi ini resmi dibuka pada Kamis, 11 Juni 2026, dan dijadwalkan berlangsung hingga 14 Juni 2026 mendatang. Bertempat di Sudirman Grand Ballroom Bandung, acara ini sukses menarik perhatian para pelaku industri dan pencinta kemilau logam mulia.
Tahun ini merupakan kali kedua Bandung Jewellery Fair digelar setelah kesuksesan pada tahun sebelumnya. Sebagai salah satu pameran terbesar di Jawa Barat, BJF 2026 menjadi magnet bagi puluhan eksibitor. Sedikitnya 80 peserta turut ambil bagian dalam memeriahkan ajang pameran yang memadukan unsur keindahan, seni, dan teknologi modern ini.
Komposisi peserta pameran kali ini terbilang sangat variatif dan mencakup berbagai lini sektor industri. Tercatat ada 50 peserta yang berasal dari pihak swasta, disusul oleh 25 peserta yang bergerak di bidang mesin perangkat industri perhiasan. Tidak ketinggalan, sebanyak 10 Pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) pengrajin logam mulia juga ikut memamerkan karya terbaik mereka.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Emas dan Permata Indonesia sekaligus Ketua Penyelenggara Bandung Jewellery Fair 2026, Iskandar Husin, memberikan penjelasannya terkait keunikan pameran ini. Ia menegaskan bahwa Bandung Jewellery Fair merupakan satu-satunya pameran perhiasan di wilayah Jawa Barat yang memiliki cakupan kepesertaan yang sangat luas, baik dari dalam maupun luar negeri.
Menurut Iskandar, keberagaman peserta ini menjadi nilai tambah yang membedakan BJF dengan pameran lainnya. Berbagai bidang usaha perhiasan berkumpul di satu tempat, mulai dari pabrik perhiasan berskala besar, distributor, hingga toko perhiasan retail. Selain itu, pameran ini juga menghadirkan penyedia mekanika permesinan, kemasan perhiasan, serta para desainer dan pengrajin lokal.
“Pameran perhiasan ini merupakan kegiatan usaha yang penting perannya dalam upaya pengembangan investasi di industri kreatif dan perdagangan perhiasan serta pembukaan lapangan kerja di Indonesia,” ujar Iskandar saat ditemui di Sudirman Grand Ballroom Bandung, Jawa Barat, Kamis (11/6/2026).
Iskandar mengungkapkan bahwa tujuan utama dari pameran kali ini adalah untuk memperkenalkan serta mempromosikan produk-produk perhiasan kreatif. Fokus utama diarahkan pada perhiasan yang memiliki ciri khas desain etnik budaya Indonesia, namun diproduksi dengan memanfaatkan teknologi masa kini di industri perhiasan serta industri pendukungnya.
Di samping itu, Bandung Jewellery Fair 2026 dirancang sebagai sarana strategis bagi para pengusaha kecil dan menengah. Melalui ajang ini, para pelaku UMKM diharapkan dapat meningkatkan pangsa pasar mereka secara signifikan. Ujung dari perluasan pasar ini tentu saja adalah peningkatan angka penjualan produk-produk perhiasan kreatif di tanah air.
Lebih lanjut, Iskandar menyoroti dinamika pasar terkini, di mana harga emas terus mengalami tren peningkatan yang cukup tajam. Menariknya, kenaikan harga ini justru dibarengi dengan minat konsumen yang semakin tinggi terhadap produk-produk emas. Oleh karena itu, pameran ini hadir sebagai solusi yang tepat bagi para pemburu perhiasan.
“Di tengah harga emas yang terus mengalami peningkatan dan minat konsumen yang semakin tinggi terhadap produk–produk emas, maka dalam pameran ini konsumen juga bisa mendapatkan produk-produk perhiasan berkualitas dengan harga bersaing serta memperluas wawasan tentang perhiasan yang diproduksi dengan teknologi terbaru, desain terkini, dan ciri khas etnik budaya yang tinggi,” paparnya.
Iskandar mengimbuhkan bahwa esensi dari pameran ini mencakup tiga pilar utama. Pertama, membuka akses pasar bagi pengrajin perhiasan baik di kancah domestik maupun internasional. Kedua, membuka lapangan pekerjaan baru karena industri perhiasan merupakan industri padat karya. Ketiga, memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai nilai penting perhiasan sebagai barang investasi.
Senada dengan hal tersebut, Ketua Asosiasi Pengusaha Emas dan Permata Indonesia, Jeffrey Thumewa, turut menyampaikan pandangannya. Ia menambahkan bahwa digelarnya Bandung Jewellery Fair 2026 diharapkan mampu mendapatkan dukungan penuh dari pihak pemerintah. Dukungan ini dinilai krusial agar industri perhiasan nasional bisa tetap berjalan stabil dan berkelanjutan.
Jeffrey optimistis bahwa sinergi antara asosiasi, pelaku usaha, dan pemerintah melalui pameran ini akan membawa dampak positif yang besar. Dengan adanya wadah seperti BJF 2026, UMKM di sektor perhiasan diproyeksikan bisa naik kelas dan tumbuh maju. Hal ini pada akhirnya akan berkontribusi nyata dalam meningkatkan roda perekonomian masyarakat Indonesia secara luas.
Dukungan terhadap keberlangsungan industri ini juga datang dari pihak regulator. Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka Kementerian Perindustrian Republik Indonesia, Reni Yanita, M.Si, menyatakan bahwa meskipun harga perhiasan di pasar global cenderung fluktuatif, industri perhiasan dalam negeri diharapkan tidak menghentikan proses produksinya.
Reni juga menaruh harapan besar agar hasil produksi dari para pengrajin lokal mendapatkan apresiasi yang tinggi dari masyarakat melalui aksi nyata, yaitu dengan membelinya. Langkah ini dinilai sebagai bentuk dukungan konkret untuk menjaga keberlangsungan hidup para pengrajin perhiasan tradisional dan modern di Indonesia.
“Dengan adanya penyelenggaraan ini, sekali lagi kami dari Kementerian Perindustrian memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada APV yang terus secara konsisten mendampingi dan membantu para pelaku industri perhiasan kita,” jelas Reni dalam sambutannya.
Menurut Reni, industri perhiasan adalah sektor penuh inovasi yang harus terus dikembangkan. Jika perusahaan perhiasan terus aktif berproduksi, maka lapangan kerja yang tercipta pun akan tetap terjaga karena industri ini masuk dalam kategori padat karya yang menyerap banyak tenaga kerja dari berbagai latar belakang keahlian.
Apalagi, Reni menambahkan, masyarakat Indonesia secara turun-temurun memiliki budaya dan kegemaran berbelanja emas. Budaya ini dipandang sebagai sebuah potensi ekonomi yang sangat besar yang harus terus dirawat dan disalurkan ke arah yang positif.
“Nah ini mungkin suatu anugerah lah buat masyarakat kita supaya memang terus menabung dalam bentuk perhiasan. Di tengah situasi (harga fluktuatif) seperti ini, ya disiasati oleh produsen sebenarnya. Produsen perhiasan kita sudah mulai pintar membuat perhiasan dengan kadar karat yang lebih rendah, jadi secara nilai ekonomis tetap bisa dijangkau oleh masyarakat,” tandasnya mengakhiri pembicaraan.
What's Your Reaction?