Christian Julianto Budiman Serap Aspirasi Transportasi dalam Forum 'Touchbase Bandung'
Wakil Ketua Fraksi PSI DPRD Kota Bandung
Bandung - Kota Bandung kembali menghadapi tantangan serius terkait mobilitas warga di tengah kemacetan yang kian mengunci ruang gerak kota. Merespons kondisi tersebut, sebuah forum diskusi terbuka bertajuk Touchbase Bandung: Bebenah Transum Nu Merenah digelar di Tjap Sahabat, Jalan Cibadak, Bandung, pada Sabtu, 28 Maret 2026. Acara ini menjadi momentum krusial untuk membedah karut-marut sistem transportasi publik di Kota Kembang.
Kegiatan ini diinisiasi oleh kolaborasi antara Bijak Memantau dan Demokrasi Kita sebagai ruang dialog interaktif yang mempertemukan warga dengan wakil rakyat. Anggota DPRD Kota Bandung dari lintas fraksi dan komisi hadir untuk mendengar langsung keluhan serta masukan dari masyarakat. Forum ini bertujuan memangkas jarak antara pengambil kebijakan dan warga yang setiap hari bergulat dengan kemacetan jalanan.
Selain menjadi wadah aspirasi, forum ini juga difungsikan sebagai sarana edukasi politik bagi masyarakat luas. Warga diajak untuk menyelami lebih dalam mengenai proses legislasi, mekanisme penganggaran, hingga tantangan teknis dalam merumuskan kebijakan transportasi yang aman, andal, dan terjangkau. Hal ini dilakukan agar warga tidak hanya sekadar mengeluh, tetapi juga memahami kompleksitas di balik meja birokrasi.
Persoalan kemacetan di Bandung saat ini dinilai telah berdampak luas, tidak hanya pada aspek waktu tempuh namun juga kualitas hidup. Kemacetan kronis yang terjadi setiap hari menyebabkan tingkat stres warga meningkat dan produktivitas menurun. Kondisi ini menuntut adanya solusi konkret yang tidak hanya bersifat jangka pendek, tetapi berkelanjutan bagi masa depan mobilitas perkotaan.
Satu data mencengangkan terungkap dalam diskusi tersebut, di mana rata-rata warga Bandung mengalokasikan hingga 37 persen pendapatan bulanan mereka hanya untuk biaya transportasi. Angka ini jauh melampaui standar kota global yang idealnya berada di kisaran 10 persen. Tingginya biaya ini menegaskan bahwa akses terhadap transportasi publik yang terjangkau masih menjadi persoalan fundamental yang menjerat ekonomi rumah tangga.
Anggota DPRD Kota Bandung, Christian Julianto Budiman dari Fraksi PSI, yang hadir sebagai salah satu narasumber menekankan pentingnya perencanaan anggaran yang realistis. Menurutnya, solusi transportasi harus berpijak pada karakteristik fisik kota yang sudah ada. Ia menyoroti bahwa keterbatasan ruang jalan di Bandung membuat pemilihan moda transportasi harus dilakukan secara sangat cermat dan terukur.
"Bandung dibangun dengan kapasitas yang berbeda dari kondisi saat ini. Jalan relatif sempit, sehingga angkot menjadi opsi paling realistis. Agar angkot bisa aman, andal, dan tepat waktu, diperlukan dukungan anggaran yang jelas," ujar Christian Julianto Budiman dalam paparannya di depan peserta diskusi.
Lebih lanjut, forum tersebut sepakat bahwa angkutan kota (angkot) sebenarnya masih menjadi tulang punggung mobilitas warga Bandung meski citranya seringkali dipandang sebelah mata. Namun, potensi besar ini dinilai belum dimaksimalkan oleh pemerintah daerah. Perlu adanya sentuhan modernisasi agar angkot dapat bersaing dan kembali diminati sebagai moda transportasi utama.
Perwakilan Demokrasi Kita, Sena Luphdika, mengungkapkan fakta bahwa terdapat ribuan unit angkot yang saat ini dalam kondisi "setengah menganggur" atau belum diberdayakan secara maksimal. "Lebih dari 2.000 angkot di Bandung belum dioptimalkan, padahal potensinya besar untuk bertransformasi. Pilot project yang sudah berjalan perlu diperluas dengan dukungan kebijakan yang nyata," tegas Sena.
Menutup rangkaian diskusi, perwakilan Bijak Memantau, Efraim Leonard, menegaskan bahwa keterlibatan warga adalah kunci dari setiap kebijakan publik yang sukses. Ia berharap forum Touchbase ini mendorong warga untuk lebih proaktif dalam memastikan kebijakan transportasi ke depan benar-benar sesuai dengan kebutuhan lapangan. Sinergi antara legislatif dan aspirasi warga diharapkan mampu melahirkan regulasi transportasi yang jauh lebih efektif dan relevan.
What's Your Reaction?