Perangkat AI - DAC Dari Cirebon
Catatan Pameran Produk AIIF ke 2 di ITB (26-28 AGUSTUS 2026)
Bandung - Di AI Indonesia Initiative Forum (AIIF) di ITB, DAC Indonesia tampil sebagai sponsor perangkat AI dalam negeri: laptop, workstation, dan server. Nama DAC adalah Dari Anak Cirebon. Kantor, pabrik, gudang, dan purnajualnya berpusat di Kota Cirebon, Jawa Barat. Yang ditawarkan bukan merek impor yang hanya ditempeli stiker lokal, melainkan perangkat yang dirancang, dirakit, diuji, dan didukung dari Cirebon.
Katalog produknya menuliskan angka yang bisa dicek. Laptop DAC F1 D11 DN50 memiliki TKDN+BMP 41,70 persen; varian 2C/4C 41,85 persen; F1 DN50 P/F1 ARN P 42,59 persen; dan DAC 7D ARN 43,35 persen. Ada pula DAC RN X15 dengan mesin Intel Core Ultra dan AI engine (NPU). Di sisi infrastruktur, server rak 2U DAC Dragon SVR X222V2—berprosesor Intel Xeon, memori hingga 128 GB, dan penyimpanan ECC—mencatat TKDN+BMP 42,93 persen.
Workstation DAC WS 220–238 juga 42,93 persen. Angka itu bukan klaim umum, melainkan nilai yang dicantumkan per tipe di katalog.
Kejujurannya tetap perlu dijaga. Chip utama—prosesor Intel atau AMD, GPU NVIDIA, NPU, memori, dan chipset—berasal dari rantai pasok global. Tidak ada pabrik di Cirebon yang membuat semikonduktor itu.
Yang dipertanggungjawabkan sebagai kandungan dalam negeri adalah pekerjaan di Indonesia: desain dan kustomisasi, verifikasi komponen, perakitan, integrasi perangkat keras dan lunak, pengujian, kendali mutu, distribusi, serta layanan purnajual. Karena itu nilai yang dipakai adalah TKDN+BMP, sesuai ketentuan pengadaan produk dalam negeri.
Skala produksinya sudah melewati bengkel kecil. DAC memiliki 110 karyawan tetap, lebih dari 500 tenaga pendukung, dan kapasitas hingga 500.000 unit per tahun. Sertifikasinya mencakup ISO 9001, ISO 14001, ISO 45001, plus pengujian seperti IP41/IP65 dan MIL-STD-810H pada sejumlah tipe. Jaringan purnajualnya mencakup 34 Provinsi dan 168 service center. Produknya sudah dipakai instansi pemerintah, kampus, dan industri; Pemkot Cirebon pernah menyebut pasokan kementerian dalam jumlah ribuan unit.
Bagi forum AI di ITB, intinya sederhana. Indonesia belum mandiri di lapisan chip, tetapi sudah bisa merakit dan mengustomisasi AI laptop serta AI server di dalam negeri dengan TKDN+BMP yang tertulis di katalog—berkisar 41,70 sampai 43,35 persen untuk laptop, dan 42,93 persen untuk server. Chip boleh datang dari luar. Yang tidak boleh diimpor begitu saja adalah kemampuan merancang, merakit, menguji, dan merawat perangkat itu sendiri. Di Cirebon, itulah yang dikerjakan DAC.
Langkah berikutnya adalah menyambungkan perangkat itu ke kebutuhan nyata kampus dan industri: local AI di laboratorium, server di dekat pabrik, dan workstation untuk riset yang datanya tidak harus keluar negeri. Jika AIIF hendak mendorong AI yang berdaulat, yang dibutuhkan bukan hanya model dan algoritma, melainkan juga perangkat yang TKDN-nya bisa diaudit, purnajualnya ada di dalam negeri, dan produksinya menumbuhkan industri di luar Jakarta—salah satunya di Cirebon.
What's Your Reaction?