Pancasila Perekat Keberagaman Bandung, FPK Ajak Masyarakat Jaga Harmonisasi di Momen Lahir Pancasila
Selfana Gunawan Go, S.T. - Wakil Ketua Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Kota Bandung.
BANDUNG — Menjelang peringatan Hari Lahir Pancasila yang jatuh pada tanggal 1 Juni, stasiun radio RRI Pro 1 Bandung 97.6 FM kembali menyapa ruang dengar masyarakat melalui program unggulan "Bandung Menyapa". Pada edisi Senin (1/6/2026) pagi, program interaktif yang berlangsung mulai pukul 08.00 hingga 08.30 WIB ini mengangkat sebuah tema yang sangat relevan dengan kondisi sosial kemasyarakatan saat ini. Mengusung tajuk "Pancasila Sebagai Perekat Keberagaman di Kota Bandung", diskusi ini mengupas tuntas eksistensi ideologi negara dalam bingkai heterogenitas kota.
Hadir sebagai narasumber utama dalam siaran kali ini adalah Selfana Gunawan Go, S.T., yang menjabat sebagai Wakil Ketua Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Kota Bandung. Dipandu oleh host kawakan RRI, Wiedya Perdhani, dialog interaktif ini berjalan dinamis dengan mengalirkan pemikiran-pemikiran segar mengenai pentingnya merawat toleransi. Perbincangan pagi ini menyoroti bagaimana nilai-nilai luhur Pancasila diimplementasikan secara nyata agar tidak sekadar menjadi jargon politik, melainkan menjadi fondasi hidup berdampingan di tengah masyarakat Paris van Java yang multietnis.
Dalam pemaparannya, Selfana Gunawan Go menekankan bahwa Kota Bandung sejak lama dikenal sebagai miniatur Indonesia karena dihuni oleh beragam suku, ras, agama, dan golongan. Heterogenitas ini di satu sisi menjadi kekayaan budaya yang luar biasa, namun di sisi lain menyimpan potensi kerawanan sosial jika tidak dikelola dengan bijak. Di sinilah Pancasila hadir sebagai titik temu (kalimatun sawa) dan tali pengikat yang mampu menyatukan perbedaan pandangan serta latar belakang kultural demi terciptanya kondusivitas kota.
Lebih lanjut, Selfana menjelaskan bahwa Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Kota Bandung terus berkomitmen melakukan berbagai upaya preventif dan edukatif guna menginternalisasi nilai Pancasila ke tataran praktis. FPK aktif merangkul berbagai elemen masyarakat, mulai dari tokoh adat, pemuka agama, hingga komunitas kepemudaan untuk saling berbaur dan berdialog. Menurutnya, pembauran yang hakiki akan tercipta ketika ada ruang-ruang perjumpaan yang intens antarwarga, sehingga prasangka sosial bisa dikikis dan digantikan oleh rasa saling menghormati.
Peran aktif masyarakat dalam menjaga harmonisasi juga menjadi sorotan penting dalam siaran "Bandung Menyapa" ini. Selfana mengingatkan bahwa tantangan merawat keberagaman di era digital semakin kompleks dengan maraknya sebaran informasi hoaks dan ujaran kebencian yang berpotensi memecah belah. Oleh karena itu, momentum Hari Lahir Pancasila ini harus dijadikan ajang refleksi bagi warga Bandung untuk menyaring informasi dan mengedepankan sikap saling menghargai, baik di dunia nyata maupun di media sosial.
Di tengah jalannya diskusi, Host Wiedya Perdhani juga membuka kesempatan bagi para pendengar setia RRI Pro 1 Bandung untuk bergabung memberikan atensi maupun pertanyaan interaktif. Respons masyarakat yang masuk melalui talian telepon dan pesan singkat menunjukkan antusiasme yang tinggi terhadap isu kebangsaan ini. Banyak warga yang mengapresiasi kehadiran FPK Kota Bandung dan berharap program-program edukasi mengenai nilai gotong royong dan toleransi berbasis Pancasila bisa lebih masif menyasar generasi muda atau Gen Z.
Menanggapi masukan pendengar, Selfana Gunawan Go membenarkan bahwa pendekatan edukasi nilai kebangsaan kepada generasi muda memerlukan strategi khusus yang lebih segar dan adaptif. FPK Kota Bandung sendiri mulai mengemas sosialisasi pembauran lewat kegiatan-kegiatan kreatif, seni budaya, dan pemanfaatan platform digital. Hal ini dilakukan agar anak-anak muda tidak merasa jenuh dan dapat memahami bahwa Pancasila adalah ideologi yang dinamis, keren, serta sangat relevan untuk menjawab tantangan zaman.
Selain menyasar anak muda, penguatan nilai Pancasila sebagai perekat sosial juga terus diupayakan menyentuh level akar rumput melalui sinergi dengan pemerintah daerah dan kewilayahan. Kolaborasi yang solid antara FPK, Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol), serta komunitas lokal menjadi kunci utama keberhasilan program pembauran. Sinergitas ini memastikan bahwa setiap riak kecil potensi konflik sosial di tingkat kecamatan atau kelurahan dapat dideteksi dan diselesaikan secara damai lewat musyawarah.
Di penghujung siaran yang berdurasi tiga puluh menit tersebut, terdapat benang merah bahwa Pancasila bukan sekadar sejarah masa lalu yang diperingati setiap tahunnya. Ideologi ini adalah energi hidup yang harus terus diaktualisasikan dalam perilaku sehari-hari, mulai dari hal kecil seperti menjaga kerukunan antartetangga hingga saling bantu tanpa memandang perbedaan suku dan agama. Kota Bandung yang juara akan tetap kokoh berdiri selama warganya konsisten merawat semangat toleransi yang tertuang dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika.
Siaran interaktif "Bandung Menyapa" di RRI Pro 1 Bandung 97.6 FM ini ditutup dengan ajakan bersama untuk menjadikan Hari Lahir Pancasila tahun 2026 sebagai momentum memperkuat kembali komitmen kebangsaan. Kehadiran figur publik seperti Selfana Gunawan Go diharapkan mampu memotivasi khalayak luas untuk terus berkontribusi menjaga kedamaian kota. Melalui udara, RRI Bandung sukses menyebarkan pesan damai dan edukatif, menegaskan kembali status Kota Kembang sebagai kota yang ramah, terbuka, dan harmonis bagi siapa saja yang tinggal di dalamnya.
What's Your Reaction?