Kun Fa Yaa Kun
Jumat, 28 Agustus 2026
Bandung - Puncak perhelatan 2nd AI Indonesia Initiative Forum (AIIF) 2026 dan 13th International Conference on ICT for Smart Society (ICISS 2026) di Aula Timur Institut Teknologi Bandung (ITB) menghadirkan pandangan strategis dari tingkat nasional. Dr. Okto Irianto, S.I.P., M.A., Staf Ahli Bidang Pembangunan Berkelanjutan dan Transformasi Digital Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, hadir sebagai pembicara kunci (keynote speaker) di hadapan Wali Kota Bandung Muhammad Farhan, para narasumber internasional, akademisi, serta ratusan tamu undangan pada Kamis siang, 27 Agustus 2026.
Dalam pemaparannya yang bertajuk "Menuju Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan yang Cerdas Berbasis Kecerdasan Artifisial", Dr. Okto menyoroti pentingnya transformasi digital yang terarah dalam sektor pembangunan fisik dan tata ruang wilayah. Forum strategis yang berlangsung dari tanggal 26 hingga 28 Agustus 2026 ini menjadi wadah penting untuk membahas infrastruktur digital, ekosistem cloud & data, serta sistem keamanan dan penerapan AI yang terpercaya di Indonesia.
Lebih lanjut, Dr. Okto memaparkan bahwa ruang lingkup koordinasi di bawah Kemenko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan mencakup berbagai kementerian strategis dengan tugas pokok dan fungsi (tupoksi) yang beragam. Kementerian-kementerian tersebut meliputi Kementerian Pekerjaan Umum (PU), Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), Kementerian Transmigrasi, serta Kementerian Perhubungan.
Selama ini, tantangan utama birokrasi pemerintahan adalah keberadaan data sektoral yang tersimpan di masing-masing instansi tanpa adanya interkoneksi yang memadai. Data tersebut sebenarnya ada dan valid, namun belum dapat dihubungkan atau berkomunikasi satu sama lain secara real-time. Kehadiran teknologi Kecerdasan Artifisial dipandang sebagai solusi strategis untuk menjembatani silo-silo data tersebut demi mewujudkan integrasi informasi infrastruktur nasional.
Visi pembangunan berbasis digital ini mendapatkan sambutan hangat dari jajaran Pemerintah Kota Bandung. Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, yang turut hadir dalam forum tersebut, sebelumnya telah menegaskan komitmen kuat Kota Bandung untuk menjadi kota terdepan dalam penerapan teknologi AI guna mengoptimalkan kualitas pelayanan publik bagi masyarakat.
Di bawah kepemimpinan Wali Kota M. Farhan, Pemkot Bandung aktif mendorong kolaborasi triple helix yang melibatkan unsur pemerintah, akademisi dari ITB, serta industri teknologi. Langkah sinergis ini bertujuan untuk mengintegrasikan peta jalan AI nasional secara langsung ke dalam kerangka kebijakan dan perencanaan pembangunan daerah di Kota Bandung.
Di sisi lain, di tengah gelombang euforia kecerdasan artifisial global, Dr. Okto memberikan catatan kritis agar instansi pemerintah maupun pelaku industri tidak terjebak dalam sikap Fear of Missing Out (FOMO) atau latah teknologi. Menurutnya, adopsi AI harus didasarkan pada kebutuhan riil, kesiapan kapasitas sumber daya, serta kematangan infrastruktur pendukung yang memadai. Ia mencontohkan bahwa pembuatan layanan percakapan otomatis (chatbot) sederhana di situs web instansi sering kali hanya demi mengikuti tren tanpa esensi penyelesaian masalah.
Dalam sesi wawancara khusus dengan awak media seusai acara, Dr. Okto juga menggarisbawahi aspek krusial yang kerap diabaikan banyak pihak, yakni jejak ekologis dari pengoperasian sistem kecerdasan artifisial. Teknologi AI tidak beroperasi di ruang hampa, melainkan menuntut konsumsi energi listrik dan sumber daya air yang sangat masif guna mendukung kinerja pusat data (data center) berkapasitas raksasa.
"Jadi kita hanya menanyakan ini siapa, ini apa gitu, tapi ternyata yang terjadi adalah lingkungan yang terpengaruh," ujar Dr. Okto kepada awak media, menekankan perlunya pertimbangan matang terhadap dampak ekologis dari setiap kueri atau prompt yang dimasukkan ke dalam sistem AI. Oleh karena itu, kegiatan forum seperti AIIF 2026 dinilai sangat bagus karena mempertemukan berbagai perspektif lintas sektor mulai dari pemerintah hingga klinisi.
Ketika disinggung mengenai estimasi waktu yang tepat untuk adopsi AI secara masif di Indonesia, Dr. Okto menegaskan bahwa hal tersebut bergantung pada komitmen dan kesiapan bangsa sendiri. Pendekatan terhadap kecerdasan artifisial harus dilakukan secara hati-hati, terukur, tepat guna, dan yang paling utama adalah berorientasi pada kemaslahatan serta kesejahteraan masyarakat luas tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan.
What's Your Reaction?