Sinergi FTTH, FWA, dan Mobile Broadband: Merza Fachys Tekankan Keseimbangan Ekosistem Digital di Kampus ITB
Sekjend ATSI & CEO PT. XLSMART Telecom Sejahtera, Tbk
Bandung - Institut Teknologi Bandung (ITB) melalui Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) menggelar Seminar Edukasi bertajuk "FTTH, FWA, & MOBILE BROADBAND: Strategi Manakah yang Terbaik untuk Mempercepat Pemerataan Akses Digital di Indonesia". Acara yang berlangsung di Aula Timur Kampus ITB, Jalan Ganesha No. 10, Bandung, pada Selasa (7/4/2026) ini menjadi wadah krusial bagi para pemangku kepentingan telekomunikasi nasional.
Seminar ini menghadirkan tokoh-tokoh berpengaruh di industri, salah satunya adalah Merza Fachys. Menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) sekaligus Director & Chief Regulatory Officer PT. XLSMART Telecom Sejahtera, Tbk., Merza memberikan perspektif mendalam mengenai dinamika industri dari sisi layanan dan regulasi.
Kehadiran Merza di Aula Timur memiliki makna emosional tersendiri. Sebagai alumni Teknik Elektro ITB angkatan 1975, ia kembali ke almamaternya untuk berbagi visi strategis. Dalam paparannya, ia menyoroti bahwa perdebatan mengenai teknologi mana yang terbaik seharusnya bergeser menjadi bagaimana setiap teknologi dapat saling melengkapi demi kepentingan konsumen.
“Setiap teknologi memiliki peran yang berbeda. Fixed broadband unggul dalam stabilitas, sementara mobile menawarkan fleksibilitas yang luar biasa. Yang terpenting adalah bagaimana kebijakan dapat menciptakan ekosistem yang seimbang dan berkelanjutan,” tutur Merza di hadapan peserta yang terdiri dari akademisi, mahasiswa, dan praktisi industri.
Ketua Pusat Studi Kebijakan Industri dan Regulasi Telekomunikasi Indonesia ITB, Ian Josef Matheus Edward, memperkuat argumen tersebut. Ia menegaskan bahwa Indonesia dengan kondisi geografisnya yang menantang tidak bisa bergantung pada satu solusi tunggal. Tidak ada "peluru perak" yang mampu menyelesaikan masalah kesenjangan digital sendirian.
Menurut Ian, teknologi Fiber to the Home (FTTH) memang memegang keunggulan mutlak dari sisi kapasitas dan stabilitas jangka panjang. Namun, jika bicara soal kecepatan penetrasi di lapangan, Fixed Wireless Access (FWA) menawarkan fleksibilitas yang jauh lebih tinggi untuk menjangkau area-area pemukiman secara cepat tanpa terkendala izin galian kabel yang rumit.
Dari perspektif pemerintah, Direktur Strategi dan Kebijakan Infrastruktur Digital Kementerian Komunikasi dan Digital RI, Denny Setiawan, menekankan urgensi pemerataan akses. Fokus pemerintah saat ini adalah memastikan bahwa kemajuan teknologi tidak hanya dinikmati oleh penduduk di kota-kota besar (urban), tetapi juga menjangkau wilayah underserved.
Denny menyatakan bahwa pemerintah berkomitmen penuh untuk terus memantau pembangunan jaringan di seluruh pelosok negeri. Targetnya jelas: infrastruktur digital harus merata agar transformasi ekonomi digital dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia tanpa terkecuali, termasuk di wilayah terluar.
Sektor industri juga memberikan pandangan praktis melalui Chief Technology Officer MyRepublic Indonesia, Hendra Gunawan. Ia menilai FTTH akan tetap menjadi tulang punggung utama layanan broadband karena kemampuannya menangani trafik data yang masif secara stabil, yang sangat dibutuhkan untuk kebutuhan industri dan pendidikan.
Meski demikian, Hendra mengakui bahwa biaya penggelaran kabel serat optik di medan sulit sangatlah tinggi. Di sinilah FWA mengambil peran vital sebagai solusi penghubung (bridge) untuk mempercepat penetrasi internet di wilayah-wilayah yang secara ekonomi atau geografis sulit dijangkau oleh infrastruktur kabel.
Dukungan teknologi dari sisi vendor disampaikan oleh Iman Hirawadi dari ZTE Indonesia. Ia menyebut bahwa saat ini teknologi FWA telah mencapai tahap kematangan yang sangat baik berkat dukungan masif dari jaringan 4G dan 5G. Kemampuan latensi yang rendah dan throughput tinggi membuat FWA menjadi kompetitor sekaligus pendamping yang kuat bagi FTTH.
Namun, Iman juga mengingatkan adanya tantangan nyata yang masih menghantui, yaitu masalah keterjangkauan harga perangkat (CPE/Customer Premises Equipment) bagi masyarakat luas. Tanpa adanya efisiensi biaya perangkat, adopsi teknologi FWA di tingkat akar rumput mungkin akan sedikit melambat.
Merza Fachys kembali menambahkan bahwa di tengah keragaman teknologi ini, kesehatan industri tetap menjadi kunci. Tanpa ekosistem yang sehat, operator akan kesulitan melakukan investasi berkelanjutan. Oleh karena itu, sinkronisasi antara kebutuhan masyarakat dan kemampuan investasi operator harus dijembatani oleh regulasi yang suportif.
Melalui seminar ini, ITB berharap dapat mendorong terciptanya kolaborasi yang lebih erat antara regulator, akademisi, dan pelaku industri. Sinergi ini dianggap sebagai satu-satunya jalan keluar untuk merumuskan langkah strategis dalam penggelaran infrastruktur broadband nasional yang efisien dan tepat sasaran.
Pada akhirnya, diskusi di Aula Timur ITB ini menyimpulkan bahwa kombinasi harmonis antara FTTH, FWA, dan Mobile Broadband adalah kunci utama. Sinergi tersebut diharapkan mampu meningkatkan daya saing ekonomi digital Indonesia di tingkat global dan memastikan masa depan digital yang inklusif bagi seluruh rakyat Indonesia.
What's Your Reaction?