Raih Juara Umum di Pasanggiri Jaipongan Dera Kinarya 2026, Padepokan Muara Beres Ukir Prestasi Gemilang di Gedung Kebudayaan
Senin, 13 Juli 2026
BANDUNG – Suasana meriah menyelimuti Gedung Pusat Kebudayaan Provinsi Jawa Barat yang terletak di Jalan Naripan, Kota Bandung. Tempat bersejarah tersebut menjadi saksi bisu lahirnya para jawara baru dalam seni tari tradisional Sunda lewat ajang bergengsi bertajuk Pasanggiri Jaipongan "Mipit Bentang - Pulangkeun". Acara yang diinisiasi oleh Dera Kinarya ini sukses digelar selama dua akhir pekan berturut-turut, yakni pada tanggal 4–5 Juli dan dilanjutkan pada 11–12 Juli 2026.
Kompetisi ketat yang diikuti oleh ratusan penari berbakat dari berbagai daerah ini akhirnya melahirkan satu nama yang keluar sebagai yang terbaik. Padepokan Muara Beres, sebuah wadah seni asal daerah, berhasil menorehkan prestasi luar biasa dengan menyabet gelar Juara Umum dalam ajang pasanggiri tersebut. Keberhasilan ini menjadi buah manis dari dedikasi tinggi yang ditunjukkan oleh para penari dan pengurus padepokan selama masa persiapan yang intensif.
Ditemui oleh awak media seusai pengumuman pemenang, pemilik sekaligus pelatih utama Padepokan Muara Beres, Tatang Taryana, tidak dapat menyembunyikan rasa haru dan bangganya. Dengan penuh kerendahan hati, pria yang akrab disapa Pak Tatang ini menegaskan bahwa predikat juara umum yang diraih bukan semata-mata karena andil dirinya sendiri. Menurutnya, piala tersebut adalah lambang dari perjuangan keras, cucuran keringat, dan disiplin tinggi yang ditunjukkan oleh anak-anak didiknya di atas panggung.
"Sebetulnya, jika ditanya mengenai kemenangan ini, ini bukan kemenangan saya pribadi, melainkan kemenangan anak-anak. Saya di sini hanya bertindak sebagai pelatih atau penata tari. Oleh karena itu, saya sangat berterima kasih kepada anak-anak dan juga kepada orang tua mereka," ujar Tatang Taryana saat memberikan keterangan kepada para jurnalis yang mengerubunginya di area Gedung Pusat Kebudayaan.
Pencapaian ini terasa semakin istimewa dan mengharukan mengingat tantangan geografis yang harus dihadapi oleh para anggota padepokan. Tatang menceritakan bahwa pusat pelatihan Padepokan Muara Beres berada di wilayah perkampungan, sementara para penarinya berasal dari daerah perkotaan yang cukup jauh. Jarak yang membentang tidak menjadi penghalang bagi mereka untuk rutin berlatih demi menampilkan performa terbaik.
"Lokasi padepokan saya cukup jauh di kampung, sedangkan anak-anak ini ada yang berasal dari Buahbatu dan Kopo. Jaraknya memang jauh, tetapi mereka memiliki niat yang sungguh-sungguh untuk belajar. Oleh karena itu, piala ini saya persembahkan untuk padepokan dan atas hasil kerja keras mereka berlima. Ya, saya hanya memiliki lima orang penari," tambah Tatang dengan mata berkaca-kaca saat menceritakan perjuangan lima penari andalannya.
Di usianya yang sudah tidak muda lagi, Tatang mengaku memiliki motivasi spiritual dan moral yang kuat untuk terus mengabdi pada kebudayaan Sunda. Baginya, melatih tari bukan lagi soal mencari materi, melainkan bentuk pengabdian terakhir sebelum dirinya memasuki masa pensiun dari pekerjaan utamanya. Ia berkomitmen penuh untuk memanfaatkan sisa waktu hidupnya demi melahirkan generasi penerus yang mencintai seni tradisi.
"Usia saya sudah tua, sudah memasuki kepala enam. Namun, saya terus berusaha untuk memberikan sesuatu yang bermanfaat selama masih hidup. Saya ingin berbagi ilmu dengan generasi penerus, terlebih sebentar lagi saya juga akan pensiun dari pekerjaan. Hanya itu saja, terima kasih," ungkap pria yang memimpin padepokan di Kampung Pasir Ipis, Desa Jayagiri, Kabupaten Bandung Barat tersebut.
Ketika ditanya oleh awak media mengenai kiat atau tips sukses bagi generasi muda, terutama para kreator dan koreografer tari saat ini, Tatang menekankan pentingnya aspek kesabaran. Menurutnya, membentuk seorang penari yang andal dan profesional tidak bisa dilakukan secara instan, melainkan membutuhkan ketekunan dalam membimbing setiap kekurangan yang dimiliki oleh peserta didik.
"Bagi generasi muda, khususnya para kreator dan koreografer atau penata tari, intinya jika ingin membuat karya atau mencetak penari profesional, mudah-mudahan tetap semangat. Kita harus sabar menghadapi segala kekurangan yang dimiliki peserta didik. Mencetak seorang penari itu memerlukan proses dan tidak ada yang instan. Pokoknya, para penata tari dan koreografer harus tetap semangat. Maju terus dalam mengembangkan seni, khususnya seni tari. Terima kasih. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh," tutup Tatang mengakhiri sesi wawancara.
What's Your Reaction?