Digital

Sabtu, 29 Agustus 2026

Aug 29, 2026 - 16:00
Sep 3, 2026 - 04:16
 0  36
Digital

Bandung - ​PT Dirgantara Indonesia (PTDI) resmi memperkuat kolaborasi strategis dengan PT Falah Inovasi Teknologi melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) untuk mengembangkan ekosistem pelatihan kedirgantaraan berbasis digital. Langkah kolaboratif ini menjadi salah satu respons nyata dalam menjawab tantangan ketenagakerjaan nasional yang tengah bergeser menuju kebutuhan kompetensi praktis dan spesifik di era industri modern.

Sebagai perusahaan teknologi nasional yang berfokus pada pengembangan perangkat lunak, sistem pelatihan virtual, simulasi, serta teknologi Virtual Reality (VR) dan Augmented Reality (AR), PT Falah Inovasi Teknologi masuk untuk melengkapi rantai pasok manufaktur PTDI. Staff Khusus Direktur Utama PT Falah, Ade Yuyu Wahyuna, menjelaskan bahwa kerja sama ini berinti pada pembangunan ekosistem kedirgantaraan yang komprehensif, di mana teknologi simulasi menjadi fondasi utama pembelajaran modern.

​Transformasi pola pelatihan ini dinilai krusial mengingat dinamika industri dirgantara menuntut metode yang melampaui batasan ruang kelas konvensional atau Computer-Based Training (CBT) standar. Ade Yuyu Wahyuna menekankan bahwa ke depannya seluruh materi pembelajaran harus beralih ke format digital dan sistem pelatihan virtual interaktif yang mengedepankan praktik visual secara langsung.

Melalui sinergi ini, PT Falah Inovasi Teknologi akan mendukung penyediaan infrastruktur dan alat bantu pelatihan digital yang andal di fasilitas milik PTDI. Selepas penandatanganan MoU ini, kedua belah pihak akan segera melanjutkan langkah strategis melalui penyusunan perjanjian kerja sama yang mendetail untuk mendirikan pusat pelatihan simulasi terpadu di kawasan PTDI.

​Pusat pelatihan simulasi tersebut nantinya dirancang secara modular dengan menyediakan berbagai kelas keahlian taktis, mulai dari perawatan pesawat (maintenance), avionik, sistem kelistrikan, hingga mesin, yang masing-masing dilengkapi dengan sertifikasi rating resmi. Ade Yuyu Wahyuna menambahkan bahwa target jangka panjang dari kolaborasi ini adalah membangun ekosistem yang tangguh hingga 50 tahun ke depan dan mampu menempatkan industri dirgantara nasional sebagai pemain terdepan di tingkat Asia Pasifik.

​Penguatan ekosistem vokasi berbasis industri ini amat sejalan dengan urgensi mengatasi paradoks ketenagakerjaan Indonesia, di mana 63 persen perusahaan masih kesulitan mendapatkan tenaga kerja dengan spesifikasi keterampilan yang sesuai. Menteri Ketenagakerjaan RI, Yassierli, saat meresmikan Dirgantara Indonesia Training Center di Bandung, menegaskan bahwa pasar kerja global kini telah bergeser dari sekadar kepemilikan ijazah formal menuju penekanan pada keahlian nyata dan portofolio kemampuan praktis.

​Untuk menutup jurang kompetensi tersebut, pemerintah menggelontorkan intervensi fiskal masif pada tahun 2026 melalui kuota Program Magang Nasional sebanyak 150.000 peserta senilai Rp4,2 triliun serta Pelatihan Vokasi Nasional bagi 300.000 peserta dengan anggaran Rp1,8 triliun. Namun, efektivitas anggaran negara tersebut hanya akan tercapai apabila dunia usaha dilibatkan secara langsung untuk merumuskan standar keahlian yang relevan dengan perkembangan teknologi terkini.

​PTDI sendiri telah mengambil posisi terdepan dalam ekosistem vokasi mandiri melalui Training Center yang sejak soft launching pada Januari 2026 sukses menyelenggarakan 17 jenis pelatihan bagi 140 peserta siap kerja, termasuk pengiriman peserta unggulan ke Korea Selatan untuk mendalami keahlian tingkat tinggi seperti metalurgi, heat treatment, machining, dan harness. Direktur Utama PTDI, Gita Amperiawan, menyatakan bahwa inisiatif ini bukan sekadar bentuk tanggung jawab sosial, melainkan strategi bisnis berkelanjutan untuk menarik kebutuhan sertifikasi eksternal ke dalam perusahaan.

​Transformasi model bisnis pelatihan ini berhasil mengubah pos pengeluaran biaya eksternal yang besar menjadi efisiensi finansial sekaligus sumber pendapatan baru yang menguntungkan bagi korporasi pelat merah tersebut. Langkah progresif ini turut diperkuat melalui kolaborasi akademis bersama Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Nurtanio untuk memastikan standar kualitas akademik dan industri berjalan seirama.

​Jika model integrasi antara manufaktur, teknologi simulasi virtual, dan pendidikan vokasi ini berhasil direplikasi secara luas, pusat pelatihan korporasi berpotensi menjadi simpul utama penciptaan tenaga kerja unggul di Indonesia. Pertanyaan mendasar hari ini bukan lagi seberapa banyak kuantitas lulusan yang dicetak, melainkan seberapa siap mereka menguasai teknologi industri secara nyata ketika dibutuhkan oleh pasar kerja masa depan.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow

Surga Nama : ADI PRAKOSO ( WA : 0857 5912 3153 )