Pesona Ratha Yatra Pasraman Sarwa Dharma: Simbol Toleransi dan Kebinekaan yang Memukau Dunia di Asia Africa Festival 2026
Selasa, 14 Juli 2026
BANDUNG — Ribuan masyarakat memadati Jalan Asia Afrika hingga Jalan Cikapundung Barat sejak pagi hari guna menyaksikan parade budaya dalam perhelatan akbar Asia Africa Festival (AAF) 2026. Masyarakat memenuhi sisi kanan dan kiri jalan demi memperoleh posisi terbaik menyaksikan seluruh rangkaian parade yang menghadirkan kekayaan budaya Nusantara dan dunia. Di tengah gemuruh antusiasme tersebut, penampilan dari Pasraman Sarwa Dharma sukses mencuri perhatian publik. Ratusan anggota lembaga pendidikan nonformal Hindu asal Bali ini turut serta memeriahkan festival dengan membawakan konsep Ratha Yatra yang megah dan penuh dengan pesan perdamaian.
Parade budaya yang berlangsung dinamis ini menampilkan beragam pertunjukan seni dari berbagai daerah di Indonesia. Antusiasme masyarakat tetap tinggi meski cuaca semakin terik hingga menjelang siang selama seluruh rangkaian parade berlangsung. Rangkaian parade sendiri diawali oleh penampilan apik Marching Band Bhinneka Bhakti Taruna Kabupaten Bandung, yang kemudian disusul oleh deretan komunitas seni dan budaya. Penampil parade berturut-turut meliputi Sanggar Tari Bali Asmarandana, Sanggar Putri Ayi Jepang dan Indonesia, Perempuan Berkebaya Indonesia Kota Cirebon, Persaudaraan Setia Hati Winongo Tunas Muda Madiun, Kereta Kencana Pasraman Sarwa Dharma, Sanggar Yang Art Disparbud Kabupaten Garut, serta Sanggar Bambu Gunung.
Kehadiran Pasraman Sarwa Dharma dalam karnaval ini membawa nuansa spiritualitas yang sangat kental melalui iringan kereta kencana dan tarian teatrikal yang memukau. Dipimpin langsung oleh Ni Made Ratnadi, SE, pasraman yang berbadan hukum di bawah Yayasan Tatar Parahyangan Bali dan berlokasi di Jalan Setiaki Nomor 20 Denpasar ini, mengikutsertakan sekitar 300 personel. Para peserta tidak hanya datang dari Bali atau Bandung selaku tuan rumah, melainkan juga dari berbagai wilayah di Indonesia seperti Lampung, Sumatra, Kalimantan, Lombok, hingga Sulawesi. Menariknya, perhelatan ini juga diikuti oleh anggota dan simpatisan dari luar negeri, termasuk Kamboja, Thailand, Amerika Serikat, dan Malaysia.
Sepanjang jalur parade, ratusan anggota pasraman ini dengan penuh suka cita menarik kereta kencana sambil menari-nari melantunkan suci Mahamantra. Pertunjukan tersebut tidak hanya menghibur masyarakat umum yang berjejal di pinggir jalan, tetapi juga memikat para pejabat pemangku kepentingan serta diplomat asing yang menyaksikan dari panggung utama. Melalui tarian yang penuh energi positif dan kebahagiaan tersebut, Pasraman Sarwa Dharma berhasil menyulap Jalan Asia Afrika menjadi ruang akulturasi budaya yang sarat akan nilai-nilai persaudaraan universal.
Pimpinan Pasraman Sarwa Dharma sekaligus Dewan Pembina Kampung Toleransi Kecamatan Andir Kota Bandung, Ni Made Ratnadi, SE, yang akrab disapa Bunda Made, mengungkapkan rasa syukur dan bangganya atas kesempatan ini. Menurut Bunda Made, Pasraman Sarwa Dharma yang telah berdiri sejak tahun 2000 ini pertama kali menggelar karnaval serupa pada tahun 2010. Hubungan erat pasraman dengan Kota Bandung terus berlanjut sejak masa pemerintahan wali kota terdahulu, yang kemudian diimplementasikan secara nyata melalui pembentukan Kampung Toleransi sebagai hilir dari semangat kebersamaan antardiskursus keyakinan.
"Di sinilah kita merasakan bagaimana persaudaraannya sangat luar biasa. Tidak hanya di Bali saja persaudaraan yang kita rasakan, tetapi di sini juga. Lambat laun berjalan, akhirnya kita menemukan sesuatu bahwa kita semua adalah saudara," ujar Bunda Made saat diwawancarai oleh awak media di sela-sela acara. Beliau menambahkan bahwa keterlibatan ratusan peserta dari berbagai daerah kali ini memberikan kesan yang sangat mendalam dan eksklusif. Anggota pasraman merasa sangat terhormat karena dapat tampil langsung di hadapan para delegasi internasional dan diplomat asing dalam suasana yang tertata dengan apik, teratur, dan terprogram secara profesional oleh pihak panitia.
Bunda Made juga memberikan penjelasan ilmiah dan spiritual terkait esensi dari tari-tarian yang mereka tampilkan sepanjang rute parade. Menari dengan ekspresi penuh kebahagiaan universal ternyata dipercaya mampu memberikan efek pembersihan, baik secara eksternal maupun internal. Secara biologis, ketika seseorang bernyanyi dan menari dengan penuh ketulusan, tubuh secara alami akan memproduksi hormon endorfin yang memicu rasa bahagia dan bertindak sebagai pereda nyeri alami. "Itulah hebatnya badan kita. Melalui getaran suara suci dan tarian Hare Krishna ini, ada energi kebahagiaan luar biasa yang bangkit, sehingga mampu mengubah pikiran negatif menjadi positif," tuturnya secara mendalam.
Dalam kesempatan yang sama, guru spiritual dari Pasraman Sarwa Dharma, Bunda Ketut Kurniti yang akrab dipanggil Bunda Parwati, turut memberikan pandangannya dari perspektif historis dan filosofis. Beliau menegaskan bahwa Asia Africa Festival 2026 merupakan momentum sejarah yang sangat kuat dalam merekatkan kembali rajutan perdamaian dunia. Festival budaya ini dinilai sangat kental dengan nilai Nusantara karena mampu menyatukan berbagai latar belakang ke dalam sebuah konsep 'budaya spiritual'. Keberadaan para tamu internasional dari berbagai negara menjadi bukti otentik bahwa esensi perdamaian dan toleransi yang digaungkan dari Bandung dapat diterima secara universal.
"Melalui gaung nama suci Mahamantra Hare Krishna ini, kami ingin memercikkan divine love and peace untuk Jawa Barat dan untuk Nusantara. Dari tempat bersejarah ini, kita gaungkan bersama keindahan kebinekaan dalam persaudaraan. Kita hidup di atas bumi yang sama, satu ibu pertiwi, dan bernaung di bawah payung ideologi Pancasila. Semoga festival yang digagas oleh pemerintah ini dapat terus berlanjut secara berkesinambungan dan memberikan warna yang semakin indah bagi kedamaian di hati, di dunia, hingga di akhirat," ungkap Bunda Parwati yang juga aktif mengajarkan nilai-nilai karakteristik Bhagavad Gita dalam rangka menyukseskan gerakan revolusi mental.
Secara khusus, kedua tokoh spiritual ini juga menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada Pemerintah Provinsi Jawa Barat serta Pemerintah Kota Bandung. Apresiasi tinggi juga ditujukan kepada jajaran pimpinan daerah, termasuk Kang Dedi Mulyadi serta Penjabat Wali Kota Bandung, Pak Farhan. Meskipun Pak Farhan dikabarkan sedang dalam kondisi kurang sehat dan terpaksa absen dalam pergelaran fisik hari ini, doa-doa kesembuhan dan pemulihan kesehatan terus mengalir dari ratusan anggota rombongan lintas provinsi ini agar beliau dapat segera kembali beraktivitas memimpin Kota Kembang.
Kawasan Asia Afrika sendiri memang terpantau telah dipadati oleh lautan manusia bahkan beberapa jam sebelum rangkaian acara resmi dimulai. Hal tersebut dikonfirmasi oleh Nikeisha, selaku Liaison Officer (LO) pendamping delegasi dari Pemerintah Kabupaten Garut, yang bertugas di lapangan. Menurut pengamatannya, antusiasme warga lokal maupun wisatawan domestik sangat luar biasa pada tahun ini. Banyak dari mereka yang rela berdiri berjam-jam di bawah terik matahari demi mengabadikan momen langka pertunjukan seni budaya yang merepresentasikan keberagaman geopolitik Asia dan Afrika tersebut.
Cerita unik juga datang dari salah seorang pengunjung senior bernama Sudarmi, yang sengaja datang lebih awal bersama keluarganya agar tidak melewatkan satu pun performa dari komunitas seni. Sudarmi yang hadir mendampingi suaminya yang telah menginjak usia 81 tahun, mengaku rela berjalan kaki sejauh delapan kilometer dari kediamannya demi bisa melihat kemeriahan parade secara langsung. Baginya, cuaca panas tidak menjadi halangan yang berarti selama festival mampu menyuguhkan hiburan yang berkualitas dan mempererat rasa kebangsaan melalui atraksi seni seperti yang dibawakan oleh rombongan kereta kencana Bali tersebut.
Secara menyeluruh, Asia Africa Festival 2026 tidak sekadar berfungsi sebagai ruang perayaan seremonial tahunan, melainkan menjelma menjadi wadah edukasi budaya yang masif bagi masyarakat luas. Melalui beragam pertunjukan kreativitas seni yang dihadirkan oleh para penampil, publik diajak untuk kembali merenungkan dan mengapresiasi kekayaan warisan leluhur. Keberhasilan pelaksanaan parade budaya ini sekaligus mengukuhkan posisi strategis Kota Bandung di kancah nasional dan internasional sebagai kota kreatif yang senantiasa konsisten menjunjung tinggi nilai-nilai keberagaman, toleransi, serta semangat historis Konferensi Asia Afrika 1955.
Dengan berakhirnya parade budaya menjelang siang hari, pesan perdamaian yang dibawa oleh Pasraman Sarwa Dharma diharapkan dapat terus membekas di hati para pengunjung dan delegasi asing. Semangat kebersamaan yang dipamerkan melalui kolaborasi gerak, musik, dan simbol-simbol toleransi beragama menjadi bukti konkret bahwa perbedaan bukanlah pemisah, melainkan kekayaan yang menguatkan bangsa. Ratha Yatra di tanah Pasundan kali ini telah sukses menjadi salah satu catatan emas dalam sejarah perjalanan diplomasi budaya dan kerukunan umat beragama di Indonesia.
What's Your Reaction?