Jangan Tunggu Tua, Generasi Muda Didorong Persiapkan Haji Sejak Dini
H. Hari Basuki - Direktur PT. Gobaitullah Mekkah Madinah (Selasa, 30/9/2025)
GOBAITULLAH NEWS - Banyak orang Indonesia baru memikirkan ibadah haji ketika sudah mapan dan berusia matang. Padahal, kesempatan mendaftar sebenarnya sudah terbuka sejak umur 12 tahun. Akibatnya, antrean haji masih didominasi jemaah berusia di atas 50 tahun.
Direktur PT. Gobaitullah Mekkah Madinah dan juga sebagai ketua pembina yayasan , H. Hari Basuki, menilai kesadaran generasi muda dalam mempersiapkan haji sejak dini masih rendah. “Kalau menabung sejak usia muda, misalnya di umur 12 atau belasan tahun, maka calon jemaah bisa berangkat pada masa produktif,” ungkap H. Hari dalam persiapan acara pelatihan DUTA Haji Muda , Bijak Finansial dengan Solusi Perbankan Syariah , yg akan dilaksanakan tgl 1 Oktober 2025 di Bandung .
Menurut H. Hari , masih banyak yang beranggapan haji hanya bisa dilakukan setelah mapan. Padahal, strategi menabung kecil-kecil namun konsisten bisa membuat ibadah haji jadi lebih terjangkau atau dengan cara pembiayaan syariah porsi haji reguler “Mulailah dari kecil, tetapi rutin dan disiplin,” katanya.
H. Hari menjelaskan perencanaan keuangan bisa dilakukan dengan langkah sederhana. Salah satunya menyisihkan sekitar Rp 600 ribu per bulan. Dalam jangka panjang, tabungan ini akan membantu menutup biaya nomer porsi haji selanjutnya bisa sambil menabung untuk pelunasan biaya haji yang tiap tahun terus naik.
Fakta kenaikan biaya memang cukup mencolok. Selama delapan tahun terakhir, ongkos haji melonjak sekitar Rp21 juta, dari Rp60 juta pada 2016 menjadi Rp89 juta pada 2024. Kenaikan ini dipicu berbagai faktor mulai dari akomodasi, transportasi, hingga layanan di Arab Saudi.
“Dengan perencanaan yang teratur, meski nominalnya kecil, calon jemaah bisa lebih siap secara finansial dan tidak terbebani saat pelaksanaan ibadah haji,” tutur H . Hari .
Tantangan Antrean 30 Tahun
Selain biaya, persoalan antrean panjang juga menjadi alasan penting kenapa generasi muda harus segera mendaftar. Rata-rata masa tunggu haji reguler di Indonesia mencapai 25–30 tahun, bahkan ada daerah yang tembus lebih dari tiga dekade.
“Kalau mendaftar di usia 30, maka kemungkinan besar baru bisa berangkat di usia 55 sampai 60 tahun. Padahal ibadah haji menuntut kesiapan fisik dan mental yang prima,” jelas H. Hari .
Ia mengingatkan, banyak jemaah akhirnya berangkat di usia lanjut, saat kondisi tubuh tak lagi sekuat dulu. Padahal, ibadah haji berlangsung selama 30–40 hari dengan aktivitas padat yang membutuhkan stamina ekstra.
Karena itu, kata H. Hari, literasi keuangan menjadi kunci. Generasi muda perlu lebih peka, bukan hanya soal biaya, tapi juga soal waktu tunggu yang panjang. Dengan begitu, perjalanan spiritual terbesar umat Islam ini bisa dijalani di usia produktif dengan kondisi fisik terbaik.
What's Your Reaction?