Nasional
Kamis, 3 September 2026
Bandung, 3 September 2026 — Forum Fasilitas Produksi Migas (FFPM) 2026 memasuki hari terakhir penyelenggaraan di InterContinental Hotel Bandung Dago Pakar, Bandung, Kamis (3/9/2026). Forum yang digelar oleh Ikatan Ahli Fasilitas Produksi Minyak dan Gas Bumi Indonesia (IAFMI) ini menjadi ruang konsolidasi para pemangku kepentingan industri minyak dan gas bumi dari sektor hulu hingga hilir.
Pada agenda penutupan, salah satu kegiatan utama yang digelar adalah Business Forum dengan tema “Ekosistem Industri Barang Operasi Fasilitas Minyak dan Gas untuk Mendukung Ketahanan Energi Nasional”. Kegiatan tersebut berlangsung pada pukul 10.00–13.00 WIB di Octave Grand Ballroom, InterContinental Hotel Bandung Dago Pakar.
Forum ini mengangkat gagasan bahwa ketahanan energi tidak hanya bergantung pada ketersediaan sumber daya migas, tetapi juga pada kesiapan dan keandalan fasilitas produksi. Prinsip yang menjadi fokus FFPM 2026 tersebut menegaskan bahwa energi yang aman membutuhkan fasilitas yang andal, sementara fasilitas yang andal membutuhkan kolaborasi dari hulu hingga hilir.
Sejumlah pemangku kepentingan strategis turut menjadi bagian dari Business Forum, termasuk SKK Migas dan IAFMI. FFPM 2026 juga mencantumkan OCATAVE sebagai Strategic Technology Partner, yang memperkuat perhatian forum terhadap peran teknologi dalam pengembangan fasilitas serta ekosistem industri migas nasional.
Business Forum menghadirkan sejumlah pembicara dari pemerintah, regulator, perusahaan migas, industri jasa inspeksi, hingga asosiasi industri. Di antaranya adalah Dr. Ir. Hendra Gunawan, Director of Oil and Gas Program Development pada Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, serta Eko Agus Nugroho, Director of Metal Industries Kementerian Perindustrian.
Dari sisi tata kelola dan rantai pasok industri hulu migas, forum menghadirkan Dino Andrian, S.T., MBA, Head of Supply Chain Management Division SKK Migas. Selain itu, hadir Ir. Sandry Pasambuna, S.T., M.T., CRGP, President Director PT Sucofindo, serta Rudi Imran, Vice President SCM & IMT INPEX Masela Ltd., yang turut memberikan perspektif mengenai kebutuhan industri dan penguatan rantai pasok.
Perspektif asosiasi dan industri juga diwakili Dr. Ir. Rudiyanto, Dip. ISM., MIIRSM., MBA., CIQoR., CIQNR., CIMMR, Chairman Guspenmigas, serta Hengki Purwoke, Ketua Hubungan Antar Lembaga IISIA. Kehadiran berbagai unsur tersebut menunjukkan pentingnya sinergi lintas sektor dalam membangun industri barang dan fasilitas operasi migas yang kompetitif serta berkelanjutan.
Acara diawali dengan opening remarks dari Corina Permatasari, Director PT Mipcon Prima Industri. Sementara itu, jalannya diskusi dimoderatori oleh Ir. Sotara Purba, PMP, Project Management Advisor & Consultant, yang memandu pembahasan mengenai tantangan, peluang, serta kebutuhan kolaborasi dalam pengembangan ekosistem fasilitas migas Indonesia.
Selain Business Forum, hari terakhir FFPM 2026 juga menjadi momentum konsolidasi melalui agenda IAFMI Innovation Award dan seremoni penutupan. Penghargaan inovasi tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong lahirnya gagasan dan teknologi baru yang dapat meningkatkan keandalan, keselamatan, efisiensi, serta daya saing fasilitas produksi migas.
Penutupan FFPM 2026 di Bandung diharapkan tidak sekadar mengakhiri rangkaian forum, tetapi menghasilkan penguatan kolaborasi antara pemerintah, regulator, perusahaan migas, penyedia teknologi, manufaktur, dan para ahli fasilitas produksi. Dengan membangun ekosistem industri yang semakin terintegrasi dari hulu hingga hilir, forum ini menempatkan keandalan fasilitas sebagai salah satu fondasi penting dalam mendukung ketahanan energi nasional.
What's Your Reaction?