Pengunjung di Hari Penutupan
Minggu, 9 Agustus 2026
BANDUNG — Suasana penutupan pameran Harmoni Wastra Nusantara di Graha Manggala Siliwangi, Jalan Aceh No. 66, Bandung, berlangsung meriah pada Minggu siang (9/8/2026). Komunitas Angklung Merah Putih (MPCC) menjadi daya tarik utama yang menghidupkan suasana hari terakhir pameran busana dan kain tradisional tersebut melalui pertunjukan musik bambu interaktif dan kolaboratif.
Ratusan peserta angklung dari berbagai kelompok tampil padu membawakan alunan musik yang harmonis. Ratusan pengunjung yang memadati area pameran tampak antusias dan riang gembira mengikuti irama musik, bahkan tidak sedikit penonton yang turut bersenandung dan bergoyang bersama mengapresiasi penampilan seni tradisional tersebut.
Pimpinan Angklung Merah Putih, Yatno Trihardani, menyampaikan rasa syukur atas kesempatan dapat menggelegarkan seni angklung di panggung Harmoni Wastra Nusantara. Ia menjelaskan bahwa kehadiran mereka bertujuan untuk merajut silaturahmi sekaligus mengukuhkan angklung sebagai pilar ketahanan budaya bangsa.
Dalam penampilannya hari ini, Angklung Merah Putih memboyong lima grup binaan yang berasal dari pelbagai wilayah di Bandung Raya. Di antaranya adalah grup angklung Mawar 13 Ciwastra, Harmoni Nada, grup dari Bojongsoang, Baleendah, hingga kelompok Sukajadi LLI.
Tercatat sekitar 125 pemain angklung turut serta memeriahkan panggung utama, di mana masing-masing komunitas menurunkan sekitar 25 orang anggotanya. Kehadiran para pegiat seni dari berbagai pelosok daerah ini mempertegas semangat kebersamaan dan gotong royong dalam menjaga warisan budaya Jawa Barat.
Untuk menyuguhkan penampilan yang memukau di pameran ini, para peserta telah menjalani persiapan dan latihan rutin selama kurang lebih satu bulan. Persiapan tersebut mencakup penyelarasan nada, penguasaan lagu, hingga pembentukan chemistry antarkelompok agar dapat tampil selaras di panggung besar.
Yatno mengungkapkan, sebagian besar anggota yang dilatihnya merupakan kelompok dewasa hingga lansia. Kendati demikian, ia mengaku sangat bangga karena fokus utama pembelajaran diarahkan pada peningkatan indeks kebahagiaan dan kesehatan para peserta melalui metode pengajaran yang mudah dicerna dan menyenangkan.
Sejak berdiri pada tahun 2014, Komunitas Angklung Merah Putih telah melahirkan ribuan pecinta angklung. Yatno mencatat sudah ada lebih dari 2.500 murid yang terjangkau lewat program pelatihan komunitas, di luar jumlah peserta didik tingkat sekolah yang sudah tak terhitung banyaknya.
Di sisi lain, Yatno menyoroti pentingnya kepedulian nyata dari pihak pemerintah terhadap kelangsungan kelompok seni independen. Selama ini, seluruh operasional dan kegiatan komunitas dijalankan secara swadaya dan gotong royong oleh para anggota tanpa bergantung pada bantuan dana pemerintah.
Melalui momentum pameran Harmoni Wastra Nusantara 2026 ini, Angklung Merah Putih berharap semangat pelestarian budaya terus membara di tengah masyarakat. Dengan pendekatan yang inklusif dan ramah untuk semua kalangan usia, angklung diharapkan tetap menjadi sarana pemersatu bangsa yang menghibur sekaligus menyehatkan.
What's Your Reaction?