Jaga Eksistensi Heritage Brand dan Dorong Sinergi Daerah, Kartika Sari Siap Unjuk Gigi di Bandung Marketing Week 2026
Jumat, 21 Agustus 2026
BANDUNG — Gelaran Bandung Marketing Week (BMW) 2026 memasuki hari kedua dengan menghadirkan rangkaian acara Corporate Day di Holiday Inn Pasteur, Bandung, Kamis (20/8). Forum bergengsi ini mempertemukan ratusan pelaku industri, pejabat pemerintah daerah, akademisi, hingga komunitas pemasaran. Berbagai pihak berkumpul untuk mendiskusikan strategi akselerasi bisnis di tengah pesatnya era kecerdasan buatan (AI).
Mengusung tema utama “Winning the Competition in the Age of AI”, ajang tahunan ini menjadi wadah kolaborasi strategis antar pemangku kepentingan. Para peserta diajak mendalami bagaimana diferensiasi dan inovasi teknologi dapat saling menopang demi memperkuat daya saing kawasan. Sinergi lintas sektor dianggap sebagai kunci utama dalam menghadapi dinamika pasar yang kian kian cepat berubah.
Salah satu mata acara yang paling menarik perhatian adalah panel diskusi bertajuk “Duo Great Marketeers of Bandung”. Sesi ini menghadirkan pakar pemasaran ternama Hermawan Kartajaya, Wali Kota Bandung M. Farhan, serta CEO Kartika Sari generasi kedua, Andrew Purnomo. Ketiganya mengupas tuntas formulasi dalam membangun citra kota, melejitkan potensi ekonomi lokal, serta memperkokoh daya saing Bandung.
Dalam pemaparannya, Hermawan Kartajaya menggarisbawahi bahwa kunci keberlanjutan sebuah merek terletak pada nilai tambah dan positioning yang unik. Ia menegaskan bahwa produk unggulan saja tidak cukup tanpa adanya diferensiasi yang kokoh dari kompetitor. Hal ini terbukti dari konsistensi MarkPlus yang mampu bertahan selama 36 tahun berkat kedisiplinan menerapkan prinsip-prinsip pemasaran dasar.
Di sisi lain, Group COO MCorp, Iwan Setiawan, turut memberikan pandangannya mengenai integrasi teknologi dalam operasional bisnis masa kini. Menurutnya, kehadiran kecerdasan buatan merupakan bagian dari evolusi alami teknologi yang harus dimanfaatkan secara proporsional. AI dipandang sangat efektif untuk membantu analisis data secara terstruktur, selama instruksi yang diberikan eksekutor manusia disampaikan secara terperinci.
Dukungan terhadap sinergi ekonomi daerah juga disuarakan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui Asisten Administrasi Umum Sekda Prov Jabar, Dra. Nani Hayani Adam, M.Si. Dalam keynote speech-nya, ia menekankan pentingnya kemitraan strategis antara pemerintah dan dunia usaha. Sinergi ini dibutuhkan agar pemanfaatan teknologi mampu memberikan dampak riil bagi kesejahteraan masyarakat dan pertumbuhan ekonomi regional.
Sebagai bentuk apresiasi terhadap kontribusi para pelaku industri dan dinas terkait, gelaran ini turut membagikan sejumlah penghargaan berkelas. Penghargaan tersebut meliputi Industry Marketing Champion West Java 2026, Public Service Award, Entrepreneurial Marketing 2026, hingga SSPOTY Award 2026. Apresiasi ini diberikan kepada jajaran korporasi, kampus, serta instansi pemerintahan yang dinilai sukses mengukir kinerja pelayanan dan pemasaran terbaik.
Di sela-sela kegiatan, CEO Kartika Sari, Andrew Purnomo (Tengah), menyampaikan rasa bangganya dapat berpartisipasi aktif dalam ajang pembinaan pemasaran tahunan ini. Sebagai penerus generasi kedua yang telah mengawal Kartika Sari hingga usia 51 tahun, ia berkomitmen untuk terus menjaga relevansi merek warisan (heritage brand) keluarga. Baginya, identitas Kartika Sari tidak dapat dipisahkan dari sejarah dan denyut perkembangan Kota Bandung.
Andrew mengungkapkan bahwa pihaknya siap menyelaraskan langkah bisnis perusahaan dengan visi besar yang diusung oleh Wali Kota Bandung, M. Farhan. Menurutnya, Kartika Sari ingin menjadi bagian penting dalam menghidupkan memori, citarasa, serta pengalaman autentik bagi setiap wisatawan yang berkunjung ke Bandung. Produk oleh-oleh legendaris ini diharapkan terus menjadi kebanggaan warga lokal maupun wisatawan.
Selain memperkuat sektor pariwisata dan kuliner, Kartika Sari juga berkomitmen memperluas dampak sosial bagi masyarakat Kota Bandung. Mengingat Bandung dihuni oleh banyak perguruan tinggi, Andrew menyatakan kesiapan perusahaannya untuk menyerap tenaga kerja lokal secara berkelanjutan. Langkah ini diharapkan dapat menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi daerah sekaligus mencetak sumber daya manusia yang handal.
Tak hanya membicarakan pertumbuhan bisnis, Andrew juga menaruh perhatian besar pada isu lingkungan hidup yang tengah dihadapi Kota Bandung, khususnya terkait pengelolaan sampah. Ia membeberkan bahwa sekitar 90 persen dari total limbah yang dihasilkan oleh operasional Kartika Sari merupakan sampah organik. Kondisi tersebut memicu komitmen internal perusahaan untuk mengelola limbah dengan cara yang lebih ramah lingkungan.
Menanggapi tantangan lonjakan wisatawan—terutama setelah dibukanya akses transportasi modern seperti kereta cepat Whoosh—Andrew memandang masalah sampah sebagai tanggung jawab kolektif. Tingginya volume kunjungan ke kuliner Kota Bandung pada akhir pekan secara otomatis meningkatkan produksi kemasan limbah makanan dari puluhan ribu gerai yang ada.
Ia menilai bahwa penanganan sampah memerlukan kolaborasi erat dan solusi terpadu bersama Pemerintah Kota Bandung. Mengingat fasilitas tempat pengolahan sampah di berbagai wilayah urban terus mengalami peningkatan beban, diperlukan strategi pemilahan dan pengelolaan yang terstruktur dari hilir ke hulu.
Kartika Sari menegaskan komitmennya untuk tidak sekadar menjadi penonton, melainkan pelaku aktif dalam gerakan pengolahan sampah secara mandiri. Andrew berharap adanya sinergi dan panduan metode pengelolaan yang lebih efisien dari pemerintah daerah agar seluruh pelaku usaha industri kuliner dapat menerapkannya secara serentak.
Melalui keikutsertaan di ajang Bandung Marketing Week 2026, Kartika Sari membuktikan bahwa inovasi bisnis, pelestarian warisan budaya kuliner, serta kepedulian terhadap lingkungan dan penyerapan tenaga kerja dapat berjalan beriringan demi kemajuan Kota Bandung.
What's Your Reaction?